Wednesday, February 19, 2014

band METAL yang membawa pesan religi

Lagi-lagi ane mau ngebahas Purgatory lagi yang masih nyambung dari episode-episode postingan ane sebelumnya, kali ini ane copas dari Gatra dengan sedikit pengeditan..berikut isinya..mudah-mudahan menginspirasi kita semua wabil khusus yang selama ini belon tau dunia 'metal'..
Debat seputar Syekh Siti Jenar mewarnai percakapan antara Anggy Umbara dan Bounty Muhammad ketika Gatra menyambangi markas Purgatory di kawasan Ciputat. Subjek ini naik ke permukaan karena Anggy sedang menggarap sebuah film tentang Syekh Siti Jenar.
"Tahu nggak Syekh Siti Jenar itu gurunya siapa ? Dia sama Sunan Kalijaga itu gurunya sama."
"Siapa? Sunan Gunung Jati?"
"Bukan. Nabi Khidir."
Bounty membantah. Ia tak yakin dengan apa yang dikatakan Anggy. Bounty bahkan mengingatkan kalau ajaran Syekh Siti Jenar itu adalah untuk dia sendiri, tidak untuk umat. Karena itulah ketika Syekh Siti Jenar menyebarkan ajarannya, dia dihukum mati oleh Sunan Kalijaga. Kalau begitu, mengapa membuat film tentang Syekh Siti Jenar ? Bukannya itu sama saja menyebarluaskan ajarannya, sesuatu yang terlarang? "Terus lu bikin film ini tujuannya apa?" Bounty mencecar balik.
Akhmad Zarkasyi, yang dari tadi ikut mendengarkan, akhirnya angkat bicara. Ia terlihat gemas dengan perdebatan itu, apalagi sudah masuk ke wilayah Nabi Khidir.
"Heh! Nabi Khidir itu muridnya cuma satu, dan itu pun sudah di'pecat' jadi murid, yakni Nabi Musa, karena dia nggak sabar. Begitu di Al-Quran," katanya sambil beranjak pergi. Anggy dan Bounty kontan tertawa.
Mereka yang tahu tentang Purgatory tentu segera mafhum bila diskusi seputar isi Al-Quran menjadi bagian dari percakapan personel band ini. Tetapi, mereka yang tahunya anak metal selalu berbicara tentang band-band cadas lain pasti terkaget-kaget dengan Purgatory. Itulah kenyataan yang ada di tubuh band beraliran death metal yang didirikan tahun 1994 itu.
Band ini unik, karena, meski mengusung genre musik metal, syair-syairnya sangat Islami, berusaha mengajak orang pada kebenaran. Tapi, untuk memahami apa makna lirik-lirik karya Purgatory, seseorang harus membacanya dengan saksama. Lirik dari komposisi bertajuk Hypocrite, yang termuat dalam album Beauty Lies Beneath (circa 2006), bisa dijadikan contoh:

"Tuhan jangan biarkan aku jatuh jauh ke lembah nista yang semakin dalam. Jangan biarkan aku terkurung dalam kehinaan dan kemunafikan. Aku hina dan kotor serta tak pantas masuk ke dalam surga-Mu. Ku juga lemah dan tak tahan akan panasnya api neraka-Mu."
Lirik-lirik semacam ini punya akar panjang dalam khazanah klasik Islam. Ungkapan "tidak pantas masuk surga, tapi juga tidak tahan masuk neraka", misalnya, sudah lama terkenal berasal dari Abu Nawas, ulama besar abad ketujuh di Persia, yang --entah kenapa-- lebih masyhur sebagai sosok jenaka. Syair ini sangat populer di kalangan para santri dan kerap dilantunkan di banyak acara keagamaan.
Atau, lirik lagu yang lain, Flatlined, yang berasal dari album serupa:
"Oh my God please forgive me I got some pride for losing my faith I never got bored in doing sins I hate I never did all the right things I've said I didn't have time to pray for my death I can't take my fall Let me live once more Undo my death, my Almighty God I beg You, let me live... I promise I'll keep my life straight then guide me live through the right path".
Flatlined, berarti garis lurus, mengacu pada tampilan kondisi jantung seseorang di monitor untuk menandakan orang bersangkutan sudah mati. Lirik lagu ini terbilang "seram" karena menggambarkan penyesalan orang yang sudah mati karena semasa hidupnya selalu berbuat dosa, hingga memohon agar dihidupkan kembali. Lirik ini mengacu pada banyak sekali ayat dalam Al-Quran, di mana para pendosa yang sudah mati digambarkan memohon kesempatan kedua kepada Allah SWT, memohon agar dikembalikan lagi ke dunia, dan mereka berjanji akan hidup sesuai ajaran Islam, yang tentu saja sudah terlambat.
Bagaimana ceritanya hingga Purgatory memilih jalur musik metal Islami? Menurut Aminuddin Al Muqaddas, sebenarnya ketika didirikan pada 1994, mereka tidak pernah memiliki niat untuk secara khusus memilih genre metal Islami. "Cuma, waktu itu anggota band rata-rata memang sudah dididik dalam tradisi Islam oleh orang tua masing-masing. Jadi kalau bikin lirik, sesuai dengan aliran death metal yang horor begitu. Tapi, horor dari sisi Islam. Misalnya, tentang siksa kubur, sakratul maut, atau neraka," ujar Al, pendiri sekaligus personel awal yang masih bertahan.
Bounty, yang resmi bergabung dengan Purgatory sejak 2005, mengiyakan kalau mereka tadinya tidak pernah sengaja memilih genre metal Islami tersebut. "Mengalir begitu saja karena cocok dengan backgroundmasing-masing," katanya.
Ia bercerita lebih detail soal backgound ini. Ia menjelaskan kalau Purgatory adalah bagian dari sebuah komunitas yang disebut MOGerz, singkatan dari Messenger of God lovers, alias pecinta Rasul. Para MOGerz ini aktif berkomunikasi terutama lewat situs jejaring sosial Facebook.
Namun, Purgatory menolak analogi MOGerz dengan fans. "Siapa pun yang cinta pada Rasul dinamakan MOGerz. Jadi MOGerz bukan fans Purgatory. MOGerz itu fans-nya Rasulullah dan Purgatory juga bagian dari MOGerz," kata Akhmad Zarkasyi.

"Kami nggak mau kalau modelnya ketemu ala rockstar dengan fans. Mending silaturahmi aja," timpal Bounty.
Lebih jauh, Akhmad menjelaskan kalau MOGerz itu kini adalah komunitas independen. Siapa pun boleh mendirikan komunitas MOGerz dan tidak harus berafiliasi dengan Purgatory. Dampaknya, kata Akhmad, saat ini banyak sekali komunitas MOGerz di daerah-daerah yang sifatnya berdiri sendiri, tidak berafiliasi satu-sama lain. "Satu-satunya kesamaan adalah bahwa kami semua pecinta Rasul," katanya.
Situs Facebook Purgatory MOGerz sendiri akhirnya lebih terasa sebagai sebuah komunitas umum daripada situs fan base. Banyak sekali tautan dan pembahasan mengenai grup band lain yang juga sama-sama mengusung visi Islami, misalnya band Kodusa (021), End of Journey, Oblivious Insanity (Medan), Maggots (Aceh), Tengkorak, GunXRose, The Roots of Madinah, Salameh Hamzah, Aftermath, PMDI Rhymes, ThrowStone, dan masih banyak lagi.
Lantas, bagaimana perilaku para personelnya sendiri ? Apakah awak Purgatory konsisten menjalankan agama seperti tercantum dalam lirik-lirik mereka? Ditanya begitu, Al berkata kalau mereka berusaha konsisten. "Iman memang selalu naik turun. Tapi, kami sepakat kalau syiar kami adalah syiar sikap," katanya.
"Saya, Alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah seteguk pun minum alkhohol," Anggy menyergah.
Bila awak Purgatory ternyata berperilaku menyimpang dari Islam, kata Al, ia tetap diberi kesempatan untuk kembali taat. Ia mencontohkan kasus yang menimpa seorang bassist Purgatory pada tahun 2003. Ketika itu, banyak laporan dari saksi, terutama anggota MOGerz, bahwa sang pembetot bas masih saja bersentuhan dengan alkohol. Selain itu, dia juga mulai tidak disiplin latihan, bahkan pernah sampai telat datang ke panggung. "Kami kasih waktu tiga bulan untuk berubah," katanya.
"Tapi setelah tiga bulan ternyata tidak berubah juga, ia akhirnya dipecat, Padahal mainnya bagus, udah enam senar, dan temen-temen cocok banget dengan gaya mainnya," kata Al.
Hal ini yang juga sekarang menimpa Lutfi, abang kandung Al yang juga pendiri Purgatory. Saat ini, Lutfi tidak lagi dianggap cocok bergabung dengan Purgatory karena dianggap tidak bisa sejalan dengan visi teman-teman yang lain. Sayang, Al menolak menjelaskan lebih jauh kasus apa yang menimpa Lutfi.
Namun, godaan tidak hanya datang dari sisi agama. Tahun 2007, Al dan kawan-kawan mulai merasa jenuh sekaligus khawatir dengan perkembangan Purgatory, yang mulai terkenal, dan uang makin banyak masuk. "Waktu itu kami sudah mulai kena gaya rock star," katanya. Banyak MOGerz mulai meninggalkan band itu. Mereka merasa Purgatory tidak lagi istimewa karena bersikap seperti band lain.

Akhirnya semua personel Purgatory sepakat membubarkan band itu. "Buat apa dipertahankan kalau ternyata band justru makin membuat individu jadi rusak," kata Al.
Lucunya, setelah dibubarkan, Al cs membentuk band baru dengan nama serupa. Bedanya, Purgatory baru ini punya seperangkat aturan ketat.
Aturan pertama, "kata Al, adalah syiar sikap, alias kesesuaian antara apa yang mereka sampaikan di lirik dan perilaku sehari-hari".
Kedua, "personel Purgatory tidak boleh mengambil uang dari honor tampil untuk kepentingan pribadi".
"Kami bertekad untuk menghidupi Purgatory, bukan Purgatory yang menafkahi kami," kata Al.

Purgatory tetap dibayar kalau manggung. Tapi, uang itu masuk kas dan biasanya digunakan untuk membiayai acara-acara silaturahmi dengan para MOGerz. "Jadi kayak baitul mal," kata Al. Dengan aturan-aturan itu, tiap personel Purgatory akhirnya memang harus memiliki pekerjaan di luar band. Al, misalnya, sehari-hari bekerja membuat jingle. Bounty dan Anggy banyak menyutradarai video klip. Badar Haryono punya studio rekaman di rumahnya. Sandy T. Siregar nyambi jadi vokalis di band lain. Sedangkan Akhmad sehari-hari bekerja sebagai akuntan di Petronas. "Dia akuntan metal," canda Bounty tertawa.
Ditanya pandangan mereka tentang musik, Al mengatakan bahwa ia adalah alat untuk menyerukan kebesaran Tuhan. Bounty sepakat. "Kami nggak mau dibilang berdakwah lewat musik, karena untuk berdakwah itu ada kriteria-kriterianya," katanya.
Bounty lalu mengutip surah Asy-Syu'araa' (Para Penyair), ayat terakhir, di mana Al-Quran mengingatkan karaktekteristik penyair, yang menurut Bounty, penyair juga berarti seniman. "Penyair itu orang-orang yang sesat, tapi kemudian turun ayat terakhir, kecuali penyair-penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Tuhan," kata Bounty.

Purgatory player
Aminuddin Al Muqaddas 'AL' (drun)
Bounty Muhammad 'BAD-ART' (guitar
Sandy T. Siregar 'Bone' (bass)
Akhmad Zarkasyi 'SANDMAN' (vokal)
Anggy Umbara 'MADMOR' (vokal growl)
DJ Badar Haryono 'D'JACKAL' (DJ)


Diskografi:
1994 Abyss Call (Purgatory)
1998 Metalik Klinik I (Rotorcorp)
1999 Ambang Kepunahan (Rotorcorp)
2003 7:172 (Sony Musica Indonesia)
2004 Metaloblast (Morbid Noise Rec./Reswara Rec)
2005 OST Gerbang 13 (dE Record)
Revolution of Sounds (kompilasi - SONY/BMG Indonesia)
Planet Rock(kompilasi - SONY/BMG Indonesia)
2006 Beauty Lies Beneath (Purgatory)
2007 The Art of Metal (kompilasi - Alfa Rec.)
Grup band Purgatory telah melepas album bertajuk Beauty Lies Beneath ke publik untuk di-download gratis. Album-album yang lain juga akan menyusul dilepas ke publik.

No comments:

Post a Comment